Info Biaya Penerbitan Buku
“Kalau ingin menerbitkan buku secara self publishing, berapa biayanya?”
Ini adalah pertanyaan mengenai pencetakan/penerbitan buku yang paling sering diajukan. Jawabannya, “Sangat relatif!”
Biaya cetak dipengaruhi banyak hal; Ukuran kertas, kualitas cetak, jumlah halaman, harga kertas(*), dan sebagainya.
Coba ketika bertandang ke toko buku, Anda perhatikan setiap buku yang diterbitkan. Ukurannya tentu berbeda-beda, kan? Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang sedang. Ada yang tipis, ada pula yang tebal. Kualitas cetak juga bermacam-macam. Jenis kertas pun berbeda-beda. Belum lagi soal kualitas cover (sampul), penjilidan, dan masih banyak unsur lainnya.
Kami yakin, orang yang paling awam sekalipun pasti tahu bahwa biaya cetak untuk tiap buku tersebut pasti tidak sama, karena spesifikasinya pun berbeda-beda.
Karena itu, menjawab pertanyaan di atas secara singkat, jelas, tepat dan pasti, sangatlah tidak mungkin.
“Lalu jika saya ingin menerbitkan buku secara self publishing, bagaimana caranya agar saya mengetahui total biaya yang harus saya keluarkan?”
Tentu saja, Anda harus menentukan dulu spesifikasi buku tersebut. Ini mencakup ukuran buku, kualitas cetak, jenis kertas, mau dicetak berapa eksemplar, dan hal-hal lain yang telah disebutkan di atas.
Memang tidak semua penulis paham hal-hal teknis seperti itu. Karenanya, kami dari DapurBuku.com membuat langkah yang praktis dan simpel saja, yaitu:
(1) Kami membuat spesifikasi standar untuk setiap buku yang diterbitkan melalui kami, yaitu:
- Untuk buku di atas 150 halaman: Dicetak dengan ukuran A5 (14 x 21 cm)
- Untuk buku di bawah 150 halaman, dicetak dengan ukuran 13 x 19 cm
- Kertas: HVS 70 gram atau bookpaper
- Cover: glossy (untuk desain berwarna cerah) atau dove (untuk desain berwarna gelap)
Bila tidak ada permintaan khusus dari si penulis, kami akan mencetak buku berdasarkan spesifikasi standar tersebut. Dan biaya cetak yang kami hitung adalah berdasarkan spesifikasi standar tersebut.
Bila ada permintaan khusus dari penulis yang berkaitan dengan spesifikasi buku, tentu kami akan menyesuaikan diri. Tentu saja, perhitungan biaya cetak pun akan disesuaikan.
(2) Anda sebagai penulis bisa menentukan sendiri, berapa anggaran yang disediakan untuk menerbitkan buku. Tentu saja, Anda bebas menentukan jumlah uangnya. Mau Rp 100 ribu atau Rp 100 juta. semuanya terserah Anda. Lalu kami dari DapurBuku.com akan menyusun konsep dan format penerbitan buku yang sesuai dengan anggaran tersebut.
Intinya: Tidak masalah berapapun anggaran yang Anda sediakan. Hanya Rp 200 ribu atau Rp 100 ribu pun bisa. Kalau Rp 200 juta tentu lebih baik
Semua bisa diatur
* * *
Nah, jika Anda ingin tahu lebih detil mengenai seluk beluk penghitungan biaya penerbitan buku, berikut kami jelaskan. Semoga bermanfaat, ya.
Tentang Biaya Tetap
Salah satu faktor yang sangat penting pada harga cetak adalah jumlah eksemplar buku yang dicetak. Anda mau mencetak 100 eksemplar, atau 2.000, atau 5.000, atau 100 ribu eksemplar? Jawaban atas pertanyaan ini sangat mempengaruhi harga per-eksemplar yang harus Anda bayar.
Kalau Anda masih bingung, berikut saya jelaskan:
Pada dunia percetakan buku, ada unsur yang namanya biaya tetap. Artinya, berapapun jumlah buku yang diproduksi, biaya tetap tersebut tidak berubah. Sudah fix.
Karena adanya biaya tetap inilah, maka semakin banyak jumlah buku yang dicetak, harga per-eksemplarnya semakin murah.
Misalnya: Bila mencetak sebanyak 3.000 eksemplar, biaya per-eksemplar Rp 10.000. Tapi bila yang dicetak hanya 100 eksemplar, biaya per-eksemplar bisa mencapai Rp 25.000 atau lebih.
Sebagai gambaran:
- Buku dicetak 3.000 eksemplar. Harga per-eksemplar Rp 10.000. Maka total biaya cetak = Rp 30 juta.
- Buku dicetak 1oo eksemplar. Harga per-eksemplar Rp 25.000. Maka total biaya cetak = Rp 2.500.000.
(NB: Angka yang saya sebutkan di atas hanya ilustrasi, ya…. Untuk memudahkan pemahaman Anda. Itu bukan angka riil.)
Dari segi total biaya cetak, memang mencetak 100 eksemplar jauh lebih murah. Tapi bila buku tersebut Anda jual, maka margin atau keuntungan Anda jauh lebih sedikit.
Katakanlah buku Anda dijual seharga Rp 35.ooo per-eksemplar. Maka jika bukunya dicetak 3.000 eksemplar, masih ada margin Rp 25.000 untuk setiap buku yang terjual. Tapi jika buku tersebut hanya dicetak 100 eksemplar, maka marginnya hanya Rp 10.000(**).
NB: (**) Perhitungan di atas hanya bersifat kasar. Sebab pada faktanya, ada sejumlah biaya lain yang menyebabkan angka margin Rp 25.00o atau Rp 10.000 tersebut berkurang lagi. Dan sekali lagi, angka-angka di atas hanya ilustrasi, bukan angka riil
Karena itulah, bila Anda punya modal besar, mencetak dengan jumlah banyak sekaligus tentu jauh lebih menguntungkan. Tapi tentu saja, Anda harus menyertainya dengan strategi marketing yang jitu, agar buku tersebut bisa laku terjual semua. Jika tidak, maka Anda bisa rugi karena tidak balik modal
Percetakan Digital
Hal-hal seputar biaya tetap di atas, berlaku jika buku Anda dicetak dengan mesin offset. Ini adalah jenis mesin cetak yang usianya sudah sangat tua, dan masih banyak dipakai hingga hari ini.
Karena adanya unsur biaya tetap pada mesin offset, maka biasanya jumlah eksemplar yang dicetak haruslah banyak. Coba bayangkan bila biaya tetap Rp 10 juta, dan buku Anda hanya dicetak 10 eksemplar. Biaya tetap per-eksemplar buku menjadi Rp 1 juta! Hm, siapa yang mau beli buku seharga Rp 1 juta?
Di penerbit mayor, biasanya buku yang pertama kali terbit dicetak sebanyak 3.000 eksemplar. Jika ternyata laris, mereka mencetak ulang dengan jumlah yang lebih banyak. Dengan jumlah eksemplar yang banyak, biaya perunit-nya bisa ditekan serendah mungkin.
Di era teknologi serba canggih seperti sekarang, muncul sebuah inovasi baru di bidang percetakan, yakni mesin cetak digital. Ini adalah mesin yang untuk memproduksi buku tidak pakai biaya tetap. Kenapa? Karena mesin ini bisa mencetak naskah langsung dari file komputer.
Mesin cetak digital melahirkan sebuah istilah baru di dunia penerbitan, yakni Print On Demand atau POD. Maksudnya, buku bisa dicetak sesuai pesanan. Anda pesan 1 eksemplar, maka dicetak 1 eksemplar saja. Kok bisa? Karena tidak ada biaya tetap tadi
Teknologi POD inilah – antara lain – yang menyebabkan belakangan ini banyak layanan self publishing yang menawarkan paket penerbitan murah meriah atau gratis. Sebab si penyedia layanan self publishing tidak perlu mengeluarkan modal untuk menerbitkan buku siapapun. Anda sebagai penulis cukup mengirim file yang berisi naskah, plus gambar covernya. Setelah itu, si penyedia layanan self publishing langsung memajang cover buku Anda di website mereka. Bila ada yang memesan, barulah buku itu dicetak.
Ada beberapa teman yang bertanya, “Bagaimana dengan kualitas buku-buku POD? Kan dicetak secara digital. Printer digital kan hasilnya tidak sebagus mesin cetak konvensional.”
Ah, siapa bilang? Saya sudah melihat langsung demikian banyak buku yang dicetak secara digital. Kualitasnya bagus semua, sama seperti hasil mesin cetak offset.
Memang, kekurangan mesin cetak digital tentu ada. Salah satu contohnya adalah biaya cetak per-eksemplar yang jauh lebih tinggi.
Dan karena tak ada biaya tetap, maka biaya per-eksemplar tetap sama, tidak peduli berapapun jumlah eksemplar yang dicetak. Anda mencetak satu atau sejuta eksemplar, biaya per-eksemplar tetap sama.
Karena itu, mesin cetak digital sebenarnya lebih cocok bagi Anda yang punya keterbasan anggaran, dan ingin mencetak buku dalam jumlah sedikit. Tapi bila Anda punya cukup dana untuk mencetak banyak (minimal 100 eksemplar), saran saya lebih baik bukunya dicetak dengan mesin offset. Kalau mencetak banyak dengan mesin digital, tentu rugi karena biaya pereksemplarnya lebih tinggi.
Dana Anda Hanya Sedikit?
Anda sangat serius ingin menerbitkan buku secara self publishing. Tapi dana sangat terbatas. Hanya tersedia uang Rp 200 ribu, misalnya. Cukupkah?
Seperti yang saya sebutkan di atas, dalam menerbitkan buku sebenarnya SEMUA BISA DIATUR. Berapapun jumlah dana yang Anda miliki, insya Allah itu bisa digunakan untuk menerbitkan buku. Bahkan bila Anda tak punya dana sama sekalipun bisa. Caranya? Cari sponsor, yakni orang atau perusahaan atau lembaga yang mau mendanai penerbitan buku Anda. Atau Anda bisa saweran bersama sejumlah teman untuk menerbitkan satu buku antologi.
Jadi semua memang bisa diatur, bukan?
Strategi Jitu untuk yang Bermodal Tipis:
Berikut sedikit kiat dari saya untuk Anda yang punya anggaran hanya sedikit.
Cetaklah buku Anda dengan POD, lalu jual secara online. Setelah itu, sebagian hasil penjualannya ditabung untuk menambah modal. Jangan lupa, kumpulkan pula dana dari sumber lain yang memungkinkan.
Sambil jualan online, Anda sebenarnya sekalian mengetes respons pembaca. Apakah banyak orang yang membeli buku Anda atau tidak?
Jika ternyata tidak banyak yang beli, Anda tak perlu kecewa atau menyerah. Coba tingkatkan nilai jual dan kualitas buku Anda dengan cara mengikuti Paket Bedah Karya atau Asistensi di DapurBuku. Setelah itu, silahkan terbitkan dan jual lagi buku tersebut.
Jika ternyata banyak yang beli, maka Anda bisa mencetak buku tersebut dengan jumlah lebih banyak. Tentu saja, terus gencarkan promosinya. Sebab berdasarkan pengalaman saya, penjualan buku akan meningkat setiap kali kita melakukan promosi secara gencar.
* * *
Semoga informasi ini bermanfaat, ya. Salam sukses selalu!
Jonru
Founder DapurBuku.com
Keterangan:
(*) Harga kertas termasuk unsur pada biaya cetak yang menempati posisi terbesar. Harga kertas sangat fluktuatif, mirip kurs dollar USD. Jadi info harga kertas hari ini, bisa sangat berbeda di hari esok, lusa, dua bulan lagi, dan seterusnya.
NB: Anda bisa bertanya kepada kami mengenai biaya cetak untuk buku Anda. Namun dengan syarat, Anda sudah mendaftar untuk menerbitkan buku di DapurBuku.com.
Secara teknis, Anda harus mengisi formulir Kirim Naskah. Setelah itu, silahkan ajukan pertanyaan Anda seputar biaya cetak untuk buku Anda.
Mohon maaf, kami tidak melayani pertanyaan seputar biaya cetak, bila Anda belum mengisi formulir Kirim Naskah.


